Kampanye Khusus
Program Donasi Ruang Pemberdayaan
18 Juni 2025
31 Januari 2026
Donasi yang terkumpul saat ini:
Rp. 120.000
Target:
Rp. 150.000.000
Campaign Selesai
"Awalnya cuma mata kanan, tapi setahun kemudian, semua penglihatan mulai menghilang sampai sekarang menjadi permanen. Kadang saya masih merasa ndak berguna, selama hidup belum bisa bahagiakan Emak.”
Musibah memang tidak bisa ditebak kapan datangnya. Pada 2009 silam Kang Asep mengalami kecelakaan kerja, kepalanya tertimpa kipas saat membersihkannya. Namun Kang Asep tidak memeriksakannya. Setahun setelah kejadian tersebut, saat bangun untuk sholat Ied ia tidak bisa melihat. Mendadak semua menjadi gelap gulita. Dari hasil scan ternyata ditemukan tumor otak karena adanya pembekuan darah. Karena terlihat matanya baik-baik saja, Kang Asep sering dianggap berbohong oleh orang-orang sekitar.
“Saya pernah pas lagi minum kopi waktu jualan nasi, kopi saya dimasukkan abu rokok sama orang-orang. Ya Allah…” ujar Kang Asep
Kang Asep hanya tinggal bersama sang ibu yang sudah renta di dalam rumah kontrakkan yang sederhana. Ibunya yang berumur 68 tahun sangat menyayangi Kang Asep. Sejak Kang Asep sakit, Bu Sarwini berhutang mencari biaya kesana kemari untuk pengobatan anaknya "Kami udah beberapa kali diusir dari kontrakan. Tapi alhamdulillah Allah selalu kasih jalan keluarnya” ujar Kang Asep. . Untuk memenuhi kebutuhan di rumah dan membayar hutang, Kang Asep membantu Bu Sarwini berjualan nasi sarapan. Mereka harus mendorong gerobak sekitar 7 km. Karena Ibu sudah tidak kuat, Kang Asep yang membantu dorong dengan arahan dari Sang Ibu. Tak jarang barang-barang di gerobak sering jatuh karena Kang Asep tersandung sesuatu.
“Penghasilan bersih dari berjualan sehari-hari 50ribuan. Setengahnya untuk membayar koperasi. Sisanya cuma 25 ribu dibagi untuk simpanan bayar hutang, kontrakan, dan makan,” ujar Sang Ibu
Untuk makan sehari-hari Kang asep dan ibunya makan dari sisa berjualan, bahkan terkadang ada juga yang memberi makan. “Kadang makan ya bagi dua. Kadang ditahan-tahan kalo makanannya cuma 1. Sering terpaksa makan satu hari satu kali. Yang harusnya dimakan pas siang, kami makan pas malam saja, biar besok subuh pas dorong gerobak ada tenaga,” cerita Bu Sarwini.
“Kemampuan sekarang ya saya miliki hanya pijet, dulu sempet dapat pelatihan pijet juga. Cuma yaitu karna kontrakkan saya masuk gang kecil, jadi orang banyak yang ga tau. Semoga ada orang baik yang bisa bantu kami, tunanetra ini untuk mengembangkan kemampuan kami. Jadi kami bisa nafkahin keluarga kami juga. Aamiin” Ujar Kang Asep
Cerita yang sama juga dialami Oleh kang Yayak seorang Tunanetra yang saat ini menekuni dunia pijat sebagai nafkah utama untuk keluarga nya.
“Sementara saya harus ke Sungai Bahar (3 jam dari kota Jambi) Bang kalo mau dapat orderan pijet. Bahkan harus ninggalin keluarga terkadang selama 3 Bulan. Soalnya kalo di kota Jambi masih susah karna rumah saya masuk gang kecil”
Kang Yaya merupakan penyandang tunanetra yang menggantungkan penghasilannya dari usaha pijat. Profesi inilah yang menjadi satu-satunya harapan beliau untuk menafkahi keluarga yang kini menjadi tunanetra juga dikarenakan penyakit lupus Beliau juga sambilan menjadi guru ngaji. Prestasi Kang Yaya dalam Al-Qur’an juga sangat luar biasa. Beliau menjadi juara tartil Qur’an seprovinsi Jambi di PTQ (Pekan Tilawatil Quran) yang diadakan oleh RRI Provinsi Jambi.
“Alhamdulillah seminggu 2 kali saya jadi guru ngaji Bang. Tapi ya saya ga pasang tarif untuk ngajarin ngaji ini, karna murid nya juga anak-anak yang sebagian kurang mampu.” Ujar Kang Yaya.
Kalau di Kota Jambi, terkadang seminggu hanya dapat 2 pasien. Itu pun sudah Alhamdulillah. Bahkan pernah seminggu itu tidak ada sama sekali. Paling yang mijet pun itu yang sudah tau dan menjadi langganan. Kang Yaya pun tidak main-main di dunia pijat. Beliau sudah belajar pijat dan mendapatkan sertifikasi dalam memijat.
“Iya dulu saya Latihan pijat di Bandung mulai dari pijet badan, reflexi dan shiatsu” Ujar Kang Yaya.
Penerimaan Donasi
| Tanggal Donasi | Nama Donasi | Nominal Donasi | Pesan Atau Saran Program |
|---|---|---|---|
| 16 Juli 2025 | Wujudkan Rumah Pijat, Untuk Tunanetra Mandiri | Rp. 20.000 | Semoga makin banyak Tunanetra yang bisa mandiri secara ekonomi. Aamiin |
| 23 September 2025 | Wujudkan Rumah Pijat, Untuk Tunanetra Mandiri | Rp. 100.000 | - |
Penggunaan Dana
| Tanggal Penarikan | Nama Donasi | Nominal Penggunaan | Deskripsi Penggunaan |
|---|
Apa kata mereka?
Achmad Noufal
Semoga makin banyak Tunanetra yang bisa mandiri secara ekonomi. Aamiin
Dedana Demisyarep
-